Goodbye Bukalapak



Note: Tulisan saya ini tidak mencerminkan kultur dan atau kondisi kerja di Bukalapak secara keseluruhan. Hanya sebagian yang saya alami secara pribadi saja dan dapat berbeda antar karyawan ataupun calon karyawan satu sama lain baik dalam 1 departemen dengan posisi yang sama maupun berbeda.

Hari ini saya resmi membuat keputusan untuk resign dari tempat saya bekerja, Bukalapak. Ini keputusan yang cukup besar, tapi juga memang harus. Last day saya Insya Allah tanggal 03 Januari 2019 nanti. Semoga ini keputusan terbaik buat saya dan keluarga saya.










Tidak mudah memang mengeluarkan keputusan ini karena terus terang kerja di Bukalapak ini boleh dibilang pekerjaan terbaik saya so far walaupun bukan berarti tanpa ada kekurangan buat saya pribadi. Apalagi di Bandung belum ada perusahaan yang setipe namun sejajar dengan Bukalapak. Maka kemungkinan besar kalaupun saya harus cari pekerjaan lain, harus cari yang full remote (dikerjakan di rumah via internet), selain itu juga sebagai ibu, saya jadi bisa lebih banyak waktu dengan keluarga. Walaupun di Bukalapak sendiri flexible hours, tidak ada patokan jam kerja, lebih ke result oriented. Ini tentu sangat berpengaruh secara positif untuk saya sebagai ibu, dimana dari pagi hingga sekitar jam 10 saya masih bisa main sama anak saya yang kedua dan masih bisa mengurus anak sulung saya untuk siap-siap pergi sekolah TK. Sangat jauh berbeda dengan perusahaan tempat saya kerja sebelumnya yang strict banget harus jam 8 atau jam 9. Namun tidak sesederhana itu untuk jadi desainer di Bukalapak.

Tentu beberapa orang menyayangkan keputusan ini, apalagi yang tidak terlalu tahu alasan lengkapnya. Apalagi saya belum ada pekerjaan pengganti dan belum lagi Bukalapak baru saja membuat kantor baru di Bandung (jarang-jarang ada). Tau sendiri kalau startup besar bikin kantor ngga nanggung-nanggung interiornya kece abis. Mana ada di Bandung coba selama ini. Tapi intinya keputusan ini adalah demi waktu saya dengan keluarga, dengan anak-anak dan plus juga qodarullah di waktu yang bersamaan ada alasan lainnya yang muncul dimana lebih ke prinsip saya pribadi yang kaitannya dengan kepercayaan saya. Juga di Bukalapak ini so far belum ada desainer ibu-ibu dan punya anak seperti saya. Lainnya rata-rata jauh lebih muda daripada saya, bahkan level managernya pun. Sebenarnya CEO nya saja lebih muda daripada saya hehe..










Tentu dengan usia yang rata-rata masih pada muda-muda (dalam hal ini terutama desainer), usia 20-an, single atau belum punya anak, energi dan waktunya juga beda, kesehatannya juga beda hehe…sementara tuntutan pekerjaan untuk bertahan dan maju juga tidak seperti perusahaan IT/kreatif pada umumnya. Mungkin kalau selevel Tokopedia, GO-JEK, Grab sama sih. FYI aja, kalau ingin kerja di startup besar ngga cuma sekedar fun lengkap dengan fasilitasnya tapi juga harus kerja keras -at least yang saya lihat sebagai UX Designer- walaupun tanpa kepastian jaminan aman seperti jika kerja jadi PNS/BUMN sebenarnya. That’s why benefit dan suasana kerjanya juga dibuat senyaman mungkin, kata atasan saya sih gitu. Tuntutan kerja keras itu karena para startup yang serupa bersaing satu sama lain kan. Ngga cukup bagi startup mendapatkan keuntungan yang luar biasa besar saja. Perusahaan juga berlomba-lomba untuk jadi nomor 1 supaya bisa bertahan lama. Kalau ngga nanti bisa jadi kaya Kaskus, OLX atau Yahoo! yang sempat jaya lalu merosot turun *no hurt feeling

Komentar