#notetoself, Jangan menyerah dalam menuntut ilmu agama



Kalimat “Jangan menyerah...” ini pernah diucapkan oleh guru tahsin saya via WA yang 11 tahun lebih muda di bawah saya itu. Ketika beliau sudah tidak bisa mengajar saya lagi karena skripsi 😄 Alhamdulillah dengan diajari beliau, saya merasa membaca qurannya jauh lebih lancar daripada sebelumnya. Padahal waktu diajari beliau kayanya tipikal guru yang cukup ngepush di saat saya waktu itu lagi agak pilek, meler...tapi beliau ngepush saya baca berulang-ulang...dan ternyata ada hasilnya hehe.....Jadi mengaji pun lebih semangat lagi daripada dulu.



Alhamdulillah juga udah nyampe juga buku-buku islam sunnah yang saya order. Diharapkannya bisa untuk mengisi waktu luang terutama untuk buku-buku gede yang akan dibaca ketika anak libur sekolah nanti setelah ujian akhir. Karena selama masa pandemi ini kan sekolah di rumah, otomatis orang tua terutama ibu biasanya sibuk membimbing anak juga di rumah.

Sulit sih mengimbangi waktu antara mengurus anak 2 (7 & 3 tahun), suami dan juga sambil kerja walaupun kerjaannya dilakukan di rumah dengan kultur yang cukup fleksibel dan sangat ringan daripada pekerjaan saya yang sebelumnya. Belum lagi kadang saya juga suka sharing soal bidang pekerjaan saya ini, baik yang bentuknya post atau kursus online (audio) atau juga sering coba menjawab pertanyaan-pertanyaan soal UX Design ini di inbox yang masuk ke saya. DImana idealnya kita nya juga upgrade terus ilmu kan harusnya. Cuma kali ini, enough dulu deh ilmu dunianya hehe...karena saya pun kerjanya sekarang ngga banyak dituntut belajar sih, perusahaan kecil yang developer centric gitu. Namun sisanya oke sih, saya pun bersyukur masih ada pekerjaan seperti ini untuk seorang ibu dengan 2 anak, dimana anaknya sekolahnya islami tahfidz yang tiap hari ada tuntutan hafalan. Apalagi di tengah krisis pandemi gini.

Saya sering berpikir iri in positive way dan memang banyak juga sih, bahwa para akhwat yang lebih rajin menuntut ilmu ketika mereka masih single. Beruntung mereka sudah sadar/eling sedari muda dan single hehe...biasanya buku-buku merekanya juga sampe segunung. Tapi minimal kita usaha. Asal...niatkan untuk diri sendiri dan anak-anak kita saja. Untuk sharing juga boleh sih tapi bukan untuk ujub atau riya, karena nanti ilmunya tidak akan berkah dan malah ngebalik ke kitanya. Itu terjadi real di kehidupan nyata. Sudah lelah mencari ilmu, sudah pintar dan hafal ilmu islam taunya jatuh tergelincir jauh....Semoga ngga gitu ya...

Btw, buku pertama yang saya baca yang paling kecil dulu, Buku tema Sabar, itu emang belinya sepaket dengan beberapa buku lainnya dan alahamdulillah sudah tamat sih. Cocok temanya dengan kondisi hati yang cukup lagi adem, entah kenapa....even after panick attack kemarinan setelah setaunan ngga hehe....which otomatis saya harus nerima kenyataan bahwa ‘trauma’ ku berarti benar (walaupun memang udah di-diagnosed professionally juga sih) dan ternyata belum hilang total yang tadinya kirain udah hilang hanya karena sudah sembuh dari hipertiroid. Ya kupikir kan itu karena lagi hipertiroid aja jadi memicu. Dimana kenyataan tsb sebenarnya ‘ngga banget’ sih, tapi saya lebih tenang ngadepinnya dan lebih ikhlas aja. Karena lebih bisa berpikir jernih, ya mungkin karena hipertiroidnya sudah stabil juga.

Sejak corona-corona ini pokoknya (entah ada pengaruh atau tidak), di usia ke 35 ini tepatnya saya merasa lebih dewasa dalam berpikir dan ngatur emosi ketimbang saya selama 5 tahun belakangan ini dan juga tahun lalu-lalu sebelumnya lagi. Naik ke usia 35 nya sih bukan di tahun ini, udah dari tahun lalu 2019 maksudnya. Entah karena usia ini merupakan stage baru dalam usia seseorang pada umumnya?, misal tiap 5 tahun sekali? 😅 entah juga, apa karena efek bekerja di rumah aja selama setaunan ini? ini kerja remote terlama sih yang pernah saya alami sehingga tingkat stress jauh berkurang. Entah juga ya, yang pasti patut disyukuri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/9888-hakikat-ilmu.html

Komentar