Tips milih psikolog terutama jika pertama kali

Photo by Pavel Danilyuk: https://www.pexels.com/photo/man-in-black-suit-sitting-on-chair-6712691/

 

Saya pertama kali ke psikolog tahun 2016, Saat itu belum rame yang bisa online, hanya offline. Bisa online itu sejak 2020, era COVID-19, pastinya. Jadi saya pun konsul secara offline.

To the point aja, saya juga dapet tips ini dari para psikolog di Threads. Belajar dari kesalahan, masalah trauma saya pertama kali konsul ke psikolog yang ternyata setelah ditelusuri minatnya di masalah pernikahan. Pantas yang diteliti kok malah pernikahan saya, padahal traumanya beda hal. Walau bisa saja untuk mengumpulkan data lengkap (psikolog saya yang sekarang juga sempat bilang gitu), namun sepertinya malah jadi lebih berat untuk pernikahannya daripada trauma saya saat itu. Padahal sudah dipsikotes, saya ada trauma. Memang saya sempat mau melahirkan dan kepotong, padahal kayak sempat mau di-CBT, tapi setelah lahir, gak ada pemberitahuan dan kelanjutan lagi. 

Terakhir dipanggil setelah melahirkan hanya untuk jaga-jaga, barangkali saya baby blues parah, katanya. Tapi ya kenyataannya tidak parah, cenderung normal. Lalu, setelah beberapa bulan, pernah sekali, saya secara inisiatif bertemu konsul lagi, yang intinya saya lapor bahwa saya terdiagnosis hipertiroid juga, yang berpengaruh juga pada mental. Tapi somehow traumanya tetap valid dan ada, walau membaik saat hipertiroidnya mulai stabil.

Kejadian trauma saya qodarulloh saat saya usia 27 tahun, di 2012 secara online/verbal. Namun, baru menyadari saya ada trauma 4 tahun kemudian, 2016. Saat itu trauma yang kayak saya ini, masih jarang dibahas, hingga sekitar sejak 2020, mulai bermunculan yang bahas dalam bahasa Indonesia, namun kalau di luar negeri kayak udah duluan dan lebih aware.

Sekarang berarti sudah 10 tahun dan saya sudah 41 tahun. Saya merasa lebih stabil sih, hanya saja ternyata belum hilang, masih ada walau tak separah dulu. Tapi tetap saja cukup mengganggu. Akhirnya saya memutuskan untuk konseling lagi via chat selama 3 hari, lalu psikolognya menyarankan untuk konseling video call rutin untuk trauma ini.

Berikut tipsnya:

  • Sebisa mungkin kenali apa yang kamu rasakan dan hadapi. Lalu cocokan dengan minat psikolognya. Cari tahu di googling, web RS (jika ada, gak semua nyantumin minat), di app konselingnya, atau di website IPK (Ikatan Psikologi Indonesia)
  • Kalau kamu merasa ada trauma, cari psikolog atau terapis yang khusus tangani trauma. Karena kata psikologku yang sekarang trauma itu di atas stress, beda dan penanganannya bisa lama.
  • Kalau kamu memang trauma perhatikan psikologmu, apakah dia menginvalidasi traumamu atau emosi perasaanmu? karena seharusnya tidak meng-invalidasi begitu bahkan akan memperparah dan memperlama gejala, saya ngalamin. Rasanya sakit sekali, tapi kupikir ya sudah memang begitu. Walau dari sumber-sumber yang saya baca, kok kayak beda cara dia menghadapi trauma saya.
  • Ke Puskesmas bisa saja, apalagi di Jawa Barat baru saja launching 12 klinik psikologi di Puskesmas dengan BPJS atau umum dengan harga sangat terjangkau, tapi di posternya juga yang tertera hanya masalah harian, tidak ada trauma walau ada tertulis juga 'Masalah lainnya'. Jadi jika ada budget disarankan selain di Puskesmas saja dan jangan lupa sesuaikan minatnya.
  • Jika kamu merasa something wrong atau gak cocok, jangan ragu ganti psikolog walau kamu sudah merasa attach/bergantung atau nyaman. Karena nyaman dan cocok beda. Bisa jadi orangnya bisa banyak senyum, ramah tapi yang diucapkan sebenarnya menghujam otak dan hati baik kamu sepenuhnya sadar atau gak, atau bahkan kamu dalam hati denial, padahal itu jelas gak bagus buatmu.
  • Kalau dirasa berat banget cerita, dan masih memungkinkan untuk gunakan keyword tertentu sebagai clue, boleh saja begitu apalagi jika ternyata bisa ditulis atau via chat. Saya juga gak nyaman kalau membeberkan tiap perkataan saat pelecehan, akhirnya saya tunjukan keyword nya saja saat chat. Dulu pertama kali konsul mana kepikir sih, apalagi formatnya offline, masih usia 32-an. Akhirnya saya terpaksa banget cerita dengan cukup detail, karena menunda cerita pun kaya gak bisa/ga boleh (padahal setauku bisa untuk klien trauma pernah baca-baca dalam bahasa Inggris), ternyata masih gak divalidasi juga sama psikolognya, sakit banget otak saya itu. Kecuali saat diminta harus cerita dengan sangat detail ya, mungkin ada momen seperti itu yang mengharuskan, jadi gak bisa kalau pakai keyword saja, kurang tahu juga. Misal saat dipsikoterapi dengan metode tertentu, mungkin ya. WHICH NGERI SIH ITU.
  • Kalau kamu religius, minat terhadap Islam cukup tinggi dan paham tauhid dan tetap dirasa butuh psikolog, kita tidak harus cari psikolog yang juga religius atau bawa value Islam atau gak harus yang bawa metode Islam. Itu ibarat sudah ada di kita, sudah kita pegang. Tinggal kita cari yang secara teknis bisa mendampingi pemulihan kita, itu sudah cukup bahkan cenderung netral. Untuk sisi tauhid bisa kita padukan dari diri kita sendiri jika kita sudah paham. Bahkan jika berbeda agama pun tidak apa-apa karena ini sah sebagai ilmu dunia, seperti layaknya dokter. Namun jika ingin memilih sesama muslim masih wajar koq, hanya saja menurutku tidak harus sampai yang gunakan metode Islam, karena ilmu psikologi sendiri itu sudah ada.
Lihat sumber artikel ini:

Ilmu dunia engkau lebih paham

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, no. 2363)

Komentar